Tampilkan postingan dengan label kebudayaan dan pariwisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kebudayaan dan pariwisata. Tampilkan semua postingan

Objek wisata jawa timur dan jawa tengah

On Minggu, 26 Desember 2010 1 komentar

Pada musim liburan kali ini, tentu Anda dan keluarga telah merencanakan untuk berlibur bersama. Salah satu kegiatan yang bisa dilakukan adalah wisata ke luar kota karena waktu liburan yang cukup panjang pada akhir tahun ini. Beberapa lokasi wisata di Pulau Jawa bisa menjadi tujuan wisata keluarga Anda. Keelokan alam Indonesia dan pesonanya pasti membuat liburan Anda berkesan.
Di Jawa Timur dan Jawa Tengah terdapat banyak obyek wisata yang eksotik dan mempesona di Pulau Jawa. Anda bisa mengunjungi banyak tempat yang menarik. Dari alam pengunungan nan eksotik hingga pantai yang indah membuat banyak wisatawan terpukau. Ada banyak sekali lokasi obyek wisata alam di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Beberapa obyek wisata yang menarik di Jawa Timur antara lain adalah kawasan wisata Taman Nasional Bromo – Semeru yang terletak di Jawa Timur. Di Jawa Timur juga terdapat beberapa wisata alam seperti di Pacet, Tretes, Batu Malang. Di perbatasan Jawa Timur dengan Jawa Tengah terdapat obyek wisata Telaga Sarangan yang memukau.
Di Jawa Tengah pun memiliki banyak obyek wisata yang mempesona. Seperti di Karanganyar, Jawa Tengah terdapat obyek wisata alam Grojogan Sewu. Selain itu ada juga Pantai Parangtritis, Grand Canyon Indonesia di Cilacap dan Museum Kereta Api Ambarawa yang menawarkan paket wisata alam juga.
Berikut ini beberapa ulasan singkat tentang obyek wisata baik di Jawa Timur maupun di Jawa Tengah:
bromo
Gunung Bromo

Bromo

  • Lokasi: Jawa Timur, Indonesia
  • Jenis Wisata: Alam pegunungan, air terjun, lautan pasir, kawah
  • Keterangan: Terletak di timur kota Malang Jawa Timur, merupakan obyek wisata yang sangat mempesona. Pemandangan alam pegunungan yang indah membuat banyak wisatawan lokal dan mancanegara mengunjungi obyek wisata ini. Pemandangan matahari terbit yang paling dicari oleh para turis ini.
  • Ulasan selengkapnya tentang Bromo dapat Anda baca pada ulasan wisata Kumpulan.Info berikut: » Gunung Bromo
telaga sarangan
Telaga Sarangan, Magetan

Telaga Sarangan

  • Lokasi: Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Indonesia
  • Jenis Wisata: Telaga alami, alam pegunungan, air terjun, perkebunan
  • Keterangan: Terletak di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, yaitu di bagian barat Kabupaten Magetan. Merupakan obyek wisata yang sangat mempesona dan membuat pikiran damai. Anda dapat menikmati tenangnya telaga yang luas atau mengelilingi telaga sambil melihat keindahan Gunung Lawu dan pegunungan Sidoramping. Biasanya pada penghujung tahun, di sini diselenggarakan pesta kembang api.
  • Ulasan selengkapnya tentang Telaga Sarangan dapat Anda baca pada ulasan wisata Kumpulan.Info berikut: » Telaga Sarangan, Magetan
Grojogan Sewu

Hutan Wisata Grojogan Sewu

  • Lokasi: Karanganyar, Jawa Tengah, Indonesia
  • Jenis Wisata: alam pegunungan, air terjun, hutan wisata
  • Keterangan: Terletak di Gunung Lawu yang merupakan perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Memiliki hutan wisata yang rimbun dan menyegarkan. Yang terkenal di sini adalah air terjun Grojogan Sewu yang merupakan air terjun yang memiliki beberapa mata air, sehingga disebut sebagai air terjun seribu alias Grojogan Sewu.
  • Ulasan selengkapnya tentang Grojogan Sewu dapat Anda baca pada ulasan wisata Kumpulan.Info berikut: » Grojogan Sewu
Tentu masih banyak lagi yang bisa diulas untuk obyek wisata di Jawa Tengah dan Jawa Timur selain yang diulas di sini. Salah satu yang juga bisa menjadi rekomendasi adalah Museum Kereta Api Ambarawa. Anda dapat menikmati perjalanan menikmati pemandangan alam dengan kereta tua.
grojogan sewuAnda dapat mengunjungi obyek wisata alam ini yang terdapat di Pulau Jawa, baik Jawa Timur dan Jawa Tengah. Anda dapat menikmati liburan Anda sepenuhnya di obyek wisata alam ini dan membuat Anda kembali segar setelah berlibur. Jangan lupa tetap merawat keasrian dan kebersihan alam tempat obyek wisata yang Anda kunjungi. Selamat Berlibur!

WIDURI WATER PARK

On Selasa, 19 Oktober 2010 0 komentar

SPRAY GROUND / WATER PLAYGROUND



Wahana khusus diciptakan untuk menceriakan dan menambah pengalaman anak – anak pada permainan air. Dengan berbagaimacam jenis seluncuran yang disajikan baik itu yang berbentuk terowongan maupun jalan yang diperciki seperti air hujan, membuat mereka enggan untuk beranjak, salah satu yang menarik adalah menara air, dimana tempat berbentuk tokoh kartun yang sewaktu waktu akan menyiram air di bawahnya.






WATERGLIDER ( WATER SLIDES )
Bagi anda yang menyukai tantangan, coba yang satu ini. Wahana seluncur, dengan tinggi menara 11 M nerupakan seluncur tertinggi diantara yang lain, wahana yang memiliki tiga seluncur ini, akan memacu adrenalinmu, sambil berlomba dengan teman. Seluncur yang dibuat berkelok – kelok membuat kita seakan menaiki roller coster.



KOLAM ARUS ( LAZY RIVERS )
Sebagai wahana mainan air bagi pengunjung yang ingin melakukan relaksasi setelah seharian menikmati permainan, dengan menaiki pelampung yang disediakan,pengunjung di bawa mengitari areal waterboom selayaknya kapal yang sedang berlayar dilautan, sambil bercengkrama dengan teman dan melihat pemandangan yang indah.










DERMAGA
Sebuah wahana yang dibuat memanjang hingga mencapai ± 250 Meter kearah laut, membuat kita seakan berjalan diatas lautan, sambil memanjakan mata pengunjung akan keindahan laut di pantai Widuri sambil menanti SUNSET atau SUNRISE, atau bagi penggemar memancing. Nantinya wahana ini tidak hanya untuk penikmat pemandangan, tetapi juga akan disediakan kapal dan jetski yang akan menambah petualangan.

On Senin, 11 Oktober 2010 0 komentar

"Aku durung tahu neng Jowo nanging, jarene mbahku seka Pengging, Banyudono, Boyolali. Ndhisik tekan kene digowo Londo dadi kuli kontrak," kata Sadiran Nojoredjo, kakek 73 tahun warga negara Suriname keturunan Jawa.

Artinya, "saya belum pernah ke Jawa tapi katanya kakek saya berasal dari Pengging, Banyudono, Boyolali. Dulu dibawa ke sini oleh Belanda sebagai kuli kontrak."

Itulah sepenggal cerita yang dikisahkan Sadiran Nojoredjo, kakek 73 tahun warga negara Suriname keturunan Jawa mengenai leluhurnya yang merupakan salah satu dari ribuan tenaga kerja perkebunan yang didatangkan Belanda 120 tahun lalu.

Pada 1890 untuk pertama kalinya kaum imigran dari Jawa (etnis Jawa) menjejakkan kaki di benua Amerika tepatnya di Suriname, sebuah negara di kawasan Amerika Selatan yang jaraknya dari Indonesia memerlukan waktu tempuh sekitar 21-23 jam dengan pesawat terbang saat ini. Kedatangan imigran Jawa ke Suriname terbagi tiga tahap yakni pada 1890 tepatnya pada 9 Agustus di kawasan Marienburg, sebagai daerah tempat pendaratan pertama kali orang Jawa ke negara yang juga disebut Guyana Belanda itu.Hampir 33.000 orang Jawa bermigrasi ke Suriname pada periode 1890-1939. Jawa Tengah dan daerah dekat Batavia (Jakarta), Surabaya dan Semarang merupakan daerah perekrutan utama. Hanya 20 hingga 25 persen dari migran Jawa kembali ke negara asal mereka sebelum Perang Dunia II.

Sadiran menceritakan, sering kali orang-orang Jawa, pada umumnya masih pemuda, yang dibawa Belanda ke Suriname bukan atas kemauan maupun kesadaran sendiri namun menurut istilah, mereka "diwereg" atau ditipu oleh para agen pencari budak.

"Tak jarang anak-anak itu sedang bermain-main di luar rumah kemudian didatangi seseorang, mereka diajak bicara-bicara dan seperti terkena hipnotis menurut saja," kata Sadiran dengan menggunakan bahasa Jawa.

Kisah tersebut diamini oleh Bob Saridin, salah satu pengusaha Suriname keturunan Jawa yang menyebutkan para pemuda dari Jawa tersebut oleh Belanda dikatakan akan dipekerjakan di "tanah seberang" (istilah masyarakat Jawa untuk wilayah luar Jawa seperti Sumatera, Kalimantan ataupun Sulawesi).

Namun tanpa sepengetahuan mereka, imigran Jawa tersebut diangkut ke wilayah koloni Belanda di kawasan Karibia dengan menggunakan kapal laut yang kondisinya memprihatinkan sehingga tak jarang ada yang mengalami sakit di perjalanan bahkan meninggal di atas kapal.

Pemerintah Belanda menjajikan para pekerja dari Jawa tersebut akan dikontrak selama lima tahun dan setelah selesai kontraknya sebagai pekerja perkebunan akan dipulangkan ke tanah Jawa kembali.

"Mereka juga dijanjikan gaji sebesar 35 cent sehari dengan jam kerja 12-13 jam. Namun semua itu tidak pernah ditepati oleh Pemerintah Belanda," katanya.

Bahkan Belanda menetapkan peraturan yang amat ketat bagi para pekerja perkebunan dari Jawa yakni dilarang keluar dari kawasan perkebunan, jika diketahui melanggar aturan tersebut maka dikenakan sanksi dan denda.

Sehingga tak jarang banyak pekerja dari Jawa yang kehabisan gaji untuk membayar denda karena ketahuan keluar dari kawasan perkebunan dan akhirnya tidak mampu menabung untuk bisa kembali ke Jawa.

Keinginan warga Jawa yang berada di Suriname untuk kembali ke kampung halaman mereka di tanah Jawa begitu besar, namun harapan tersebut selalu kandas bahkan ketika Indonesia sudah merdeka pada 1945 hambatan itu masih ada.

Ketika para pemimpin politik Indonesia datang ke Suriname keinginan untuk kembali ke tanah air itu disampaikan, namun tidak juga membuahkan hasil, meskipun mereka memiliki paspor Indonesia.

Pada 1954 sekitar 1000 orang keturunan Jawa di Suriname mencoba untuk kembali ke tanah air namun kapal yang mereka tumpangi tidak sampai ke Jawa namun hanya di Sumatera sehingga mereka akhirnya menetap di Sumatera.

Setelah 1950an warga Jawa yang ada di Suriname sadar bahwa mereka tidak bisa kembali ke Indonesia. Hingga 1975 kesadaran politik dan pendidikan mulai tumbuh di kalangan warga keturunan Jawa.

Mereka yang sebelumnya warga negera Belanda akhirnya memilih untuk menjadi warga negara Suriname guna menjalani kehidupan yang baru dan lebih baik.

Dari tahun ke tahun, warga Jawa di Suriname mengalami perkembangan baik jumlahnya maupun peran mereka dalam kehidupan sosial, budaya, ekoomi maupun politik.

Saati ini dari sekitar 500 ribu jiwa penduduk Suriname, etnis Jawa sekitar 15 persen atau 71.900 jiwa sedangkan mayoritas dari suku Hindustan yakni 135.000 orang, diikuti oleh Afro-Suriname (87.500), Maroon (72.600), dan sisanya etnis lain.

Menunjukkan kiprah
Di bidang politik, sejak 1980 warga Suriname keturunan Jawa terutama yang berpendidikan tinggi sudah menunjukkan kiprahnya di bidang politik dan pemerintahan, dan saat ini terdapat enam menteri dalam anggota kabinet Suriname.

Keenam orang menteri tersebut yakni Menteri Perdagangan dan Industri, Micheal Miskin; Menteri Dalam Negeri, Soewarto Moestadja; Menteri Pertanian, Peternakan dan Perikanan, Hendrik Setrowidjojo; Menteri Tenaga Kerja, Pengembangan Teknologi dan Lingkungan Hidup, Ginmardo Kromosoeto, Menteri Pendidikan dan Pengembangan Masyarakat Raymond Sapoen serta Menteri Sosial dan Perumahan Rakyat Hendrik Sorat Setro Wijojo.

Selain itu juga Kepala Kepolisian Suriname H Setrosentono serta mantan Ketua Parlemen Suriname Paul Salam Sumohardjo.

Tak hanya dalam jajaran pejabat politik pemerintahan namun beberapa jejak yang tertinggal dari masyarakat keturunan Jawa di Suriname bisa terlihat dalam kehidupan sosial, budaya maupun ekonomi.

Salah satu jejak yang masih terlihat jelas eksistensi keturunan Jawa di Suriname yakni nama-nama jalan terutama di kampung-kampung seperti Wagiran Weg (weg artinya jalan), Sastroredjo Weg, Purwodadi Weg, Sidodadi Weg yang semuanya merujuk pada nama orang maupun tempat di Jawa Tengah maupun Jawa Timur.

Bukan hanya nama-nama jalan namun jenis-jenis makanan asal Jawa juga masih terlihat di negara tersebut seperti Petjel (pecel), Saoto (soto), Tjenil (cenil, yakni salah satu jenis jajanan pasar), Lontong Djangan (lontong sayur), Bami (bakmi), Ketan, Guleh (gule).

Untuk sebutan toko maupun rumah makan, warga Suriname keturunan Jawa menggunakan istilah "warung" misalnya Warung Gulo, Warung Budi Rahaju, Warung Sabar, Warung Tante Pon, ataupun Warung Om Djon. Salah satu rumah makan yang sangat terkenal dengan menu-menu masakan Jawa yakni Warung Toeti.

Nama-nama orang meskipun masih menggunakan nama Jawa namun umumnya sudah digabung dengan nama-nama barat seperti Stanley Sidoel, Alfons Satropawiro, Bob Saridin, Hendrik Legiman, Kim Sontosoemarto ataupun Sharon Pawiroredjo.

Seni dan budaya dari Jawa yang masih berkembang di Suriname seperti tari-tarian, kesenian Djaran Kepang (kuda lumping), Ludruk, Reog ataupun kabaret yakni semacam ludruk yang pemainnya semuanya laki-laki, termasuk untuk memerankan tokoh perempuan.

Meskipun kebudayaan Jawa di negara yang multi etnis tersebut, terdiri dari suku Hindustan (India), Kreol dan Bushnegro (Afrika), Jawa (Indonesia), Amerindian, China dan etnis lainnya, itu masih berkembang namun bahasa Jawa justru sudah tidak lagi mendominasi percakapan sehari-hari.

Bahasa nasional Suriname yakni bahasa Belanda sehingga tidak mengherankan jika keturunan Jawa terutama kaum muda sudah tidak bisa lagi berbahasa moyangnya.

Jika tidak menggunakan bahasa Belanda maka dalam pergaulan, kaum muda lebih banyak menggunakan bahasa "taki-taki" yakni bahasa Inggris pasaran yang hanya terdapat di Suriname.

Meskipun demikian, di negara tersebut terdapat tiga stasiun televisi dan radio yang menayangkan siaran berbahasa Jawa yakni TV Garuda, TV Mustika dan TV Pertjajah serta Radio Garuda, Radio Mustika dan Radio Pertjajah yang semuanya milik keturunan Jawa.

Lagu-lagu berbahasa Jawa, baik dari Indonesia maupun asli karya seniman-seniman musik Suriname masih berkembang di sana dan disukai kaum muda, meskipun mereka mengakui hanya sedikit-sedikit kemampuan berbahasa Jawa.

Gedung Sana Budaya, merupakan satu-satunya gedung kesenian di Suriname yang sering dimanfaatkan untuk mementaskan seni dan budaya Jawa seperti wayang orang, sendratari, ludruk maupun lagu-lagu berbahasa Jawa (campur sari), baik oleh penyanyi setempat diantaranya yang terkenal Edward Kasimun dan Maruf Amastam maupun dari Indonesia seperti Didi Kempot, Yan Velia, Mus Mulyadi, Verina dan lain-lain.

Masyarakat Suriname keturunan Jawa saat ini kini memiliki perkumpulan yakni Vereniging Herdeking Javaanse Immigratie (VHIJ) atau Persatuan Mengenang Imigrasi Warga Jawa di Suriname didirikan pada 15 Januari 1985.

Budaya maupun masyarakat Jawa (keturunan) memang masih berkembang dan eksis di Suriname, namun demikian bukan lagi Jawa yang "njawani" sebaliknya telah berbaur dengan kultur dan etnis yang hidup di situ sehingga terlihat sebagai Jawa yang mengglobal.

Maka tak mengherankan jika mendengarkan lagu-lagu berbahasa Jawa di Suriname namun melodinya beriramakan musik regae ataupun pop manis bukan campur sari sebagaimana di Indonesia, karena terpengaruh kultur Karibia.

"Budaya Jawa memang berkembang di sini namun Jawa yang seperti apa? Tentunya bukan Jawa seperti Yogyakarta, karena di sini tidak ada keraton ataupun Indonesia namun Jawa yang menjadi bagian dari bangsa Suriname," kata Menteri Dalam Negeri Suriname Soewarto Moestadja.

Courtesy by antaranews.com

Sedekah Laut Cilacap, Warisan Budaya dan Pariwisata yang Anggun nan Indah

On Minggu, 10 Oktober 2010 0 komentar

       Ritual Sedekah Laut merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil tangkapan ikan yang diperoleh oleh kaum nelayan. Sedekah Laut juga merupakan event tradisi masyarakat nelayan untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar tangkapan ikan pada musim panen ikan melimpah dan para nelayan diberi keselamatan dengan cara melarung kepala kerbau dan hasil bumi lainnya ke tengah laut. Banyak daerah di Indonesia yang memiliki tradisi Sedekah Laut.
       Ada beberapa daerah yang memiliki ritual Sedekah Laut, diantaranya Bantul, Tegal, Cilacap, Cilacap Selatan, Marunda, Teluk Penyu, Semarang, Kendal, Demak, Pemalang, Rembang, Pantai Baron, Jogja, Trenggalek, Purwodadi, Juwana, Tayu, Tuban, dan Lasem. Sedekah Laut diadakan setiap jum'at kliwon atau selasa kliwon pada bulan Muharrom atau di penaggalan Jawa di kenal dengan bulan Syuro.
       Sedekah Laut Cilacap kaya akan sejarah dan merupakan nuansa wisata yang anggun nan indah.Sedekah Laut di Cilacap dilakukan oleh Kelompok Nelayan Sidakaya, Donan , Sentolokawat, Tegalkatilayu, Lengkong, Pandanarang, PPSC dan Kemiren.
       Tradisi sedekah laut bermula dari perintah Bupati Cilacap ke III Tumenggung Tjakrawerdaya III yang memerintahkan kepada sesepuh nelayan Pandanarang bernama Ki Arsa Menawi untuk melarung sesaji kelaut selatan beserta nelayan lainnya pada hari Jumat Kliwon bulan Syura tahun 1875 dan sejak tahun 1983 diangkat sebagai atraksi wisata.
prosesi di pendopo Wijayakusuma Sakti, Cilacap
       Upacara sedekah laut sebelum hari pelaksanaan didahului dengan prosesi nyekar atau ziarah ke Pantai Karang Bandung (Pulau Majethi ) sebelah timur tenggara Pulau Nusakambangan yang dilakukan oleh ketua adat Nelayan Cilacap dan diikuti berbagai kelompok nelayan serta masyarakat untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar tangkapan ikan pada musim panen ikan melimpah dan para nelayan diberi keselamatan. Disamping upacara nyekar juga mengambl air suci/ bertuah di sekitar Pulau Majethi yang menurut legenda tempat tumbuhnya bunga Wijayakusuma.
Jolen
Arak-arakan  Jolen
       Upacara ini didahului dengan acara prosesi membawa sesaji (Jolen) untuk dilarung ke tengah laut lepas dari Pantai Teluk Penyu Cilacap dari dalam Pendopo Wijayakusuma Sakti Kabupaten Cilacap menuju arah Pantai Teluk Penyu dengan diiringi arak-arakan Jolen Tunggul dan diikuti Jolen-Jolen pengiring lainnya oleh peserta prosesi yang berpakaian adat tradisional Nelayan Kabupaten Cilacap tempo dulu. Setibanya di Pantai Teluk Penyu sesaji kemudian di pindahkan ke kapal Nelayan yang telah dihias dengan hiasan warna-warni untuk di buang ketengah lautan di kawasan pulau kecil yang di sebut Pulau Majethi.
       Rute yang biasa dipakai dalam prosesi ini adalah mulai dari halaman Pendopo Wijayakusuma, menyusuri Jl. A. Yani, LE. Martadinata, Jl. Laut, hingga ke pantai Teluk Penyu. Di Pantai inilah yang merupakan tempat pemberangkatan Jolen Tunggul untuk di larung di sekitar pulau Majethi Nusakambangan.


Jolen di Larung
      Untuk tahun 2010 ini, kemungkinan Sedekah Laut di Cilacap akan dilaksanakan pada bulan Desember, kepastian tanggal pelaksanaan menunggu keputusan dari para tokoh adat di sekitarnya.

Sumber informasi :
1. Cilacap Toursm and Culture. http://pariwisata.cilacapkab.go.id/index.php?pilih=hal&id=87
2. http://oase.kompas.com/read/2009/12/03/01474894/Tradisi.Sedekah.Laut.di.Cilacap.Segera.Digela

Powered by Blogger